circadianshift.net

Jakarta, Satu-Satunya Kota Metropolitan Paling Berbahaya di Asia Tenggara

Hampir di setiap negara pasti ada aja kasus pemerkosaan tragis anak di bawah umur yang terjadi. Di mana pun mereka berada, di negara maju atau negara berkembang pasti tetap saja ada jutaan anak perempuan dan perempuan dewasa yang berpotensi menghadapi pelecehan, kekerasan dan intimidasi setiap hari. Misalnya saja seperti Indonesia yang banyak sekali kasus-kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual yang terjadi. Korbannya adalah para wanita dan anak-anak.

Hal tersebut tentu membuat para wanita dan ibu-ibu yang mempunyai anak merasa tidak tenang karena adanya predator yang memangsa kehormatan seorang wanita dan anak-anak yang tidak berdosa. Meskipun setiap negara mempunyai masalahnya masing-masing, akan tetapi sebuah survei internasional baru-baru ini menobatkan ibukota Indonesia, Jakarta, sebagai salah satu kota besar paling berbahaya di dunia.

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan beberapa nama di antaranya Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia.

Di dunia internasional Jakarta juga mempunyai julukan J-Town atau lebih populer lagi The Big Durian karena dianggap kota yang sebanding New York City (Big Apple) di Indonesia. Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²) dengan penduduk berjumlah 10.187.595 jiwa (2011). Wilayah metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia.

Lalu apa yang membuat Jakarta disebut sebagai kota metropolitan paling berbahaya? Nah, itu semua terkuak berkat survei yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation, ia mengatakan bahwa Jakarta berada di peringkat 9 dari 10 kota paling berbahaya di dunia bagi perempuan. Tentunya itu bukan prestasi yang patut diacung jempolkan.

Hasil Survei Thomson Reuters Foundation

Thomson Reuters Foundation bekerja sama dengan perusahaan pollingYouGov, meminta partisipasi lebih dari 6.550 wanita di 15 dari 20 kota-kota terbesar di dunia, ditambah New York (kota terbesar di Amerika Serikat). Para wanita ini diminta untuk menggambarkan seberapa besar keamanan yang mereka rasakan ketika bepergian dengan transportasi umum. Pertanyaan yang ditujukan sebanyak lima poin, yaitu:

  • Bagaimana wanita aman merasa bepergian sendirian pada malam hari?
  • Bagaimana risiko pelecehan secara verbal atau fisik?
  • Apakah ada kemungkinan penumpang lain akan datang membantu mereka?
  • Sejauh mana kepercayaan bahwa pihak berwenang akan menyelidiki laporan dari pelecehan atau kekerasan tersebut?
  • Bagaimana ketersediaan transportasi umum yang aman?

Hasilnya, Bogota serta dua ibu kota Amerika Latin lainnya, yaitu Mexico City dan Lima (Peru) merupakan tiga kota dengan sistem transportasi yang paling tidak aman, setidaknya untuk wanita.

Lebih kurang 60 persen dari perempuan yang disurvei melaporkan pelecehan fisik saat bepergian. Mexico City bernasib terburuk, dengan 64 persen dari 380 wanita mengatakan bahwa mereka telah diraba-raba atau dilecehkan di angkutan umum. Adapun di Lima, angkanya adalah 58 persen. Mary Crass, Kepala Kebijakan Forum Transportasi Internasional OECD mengatakan bahwa hasil tersebut menyoroti perlunya tindakan lebih dari pemerintah dan pihak keamanan.

“Ketika ada yang dapat diandalkan, transportasi sulit diakses, ini dapat memengaruhi perempuan dan kemampuan orang untuk mengakses peluang, dan terutama bekerja, di daerah perkotaan. Hal ini dapat membuat perbedaan besar, khususnya bagi perempuan,” katanya kepada Reuters.

Kekerasan dan ancaman kekerasan dapat membatasi gerakan dan kebebasan perempuan. Kekerasan bisa mengurangi kemampuan perempuan untuk berpartisipasi di sekolah, dalam pekerjaan, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Kekerasan juga membatasi akses perempuan untuk memanfaatkan layanan penting dan merasakan kenikmatan terhadap peluang budaya dan rekreasi. Hal ini juga berdampak negatif pada kesehatan dan kesejahteraan.

Setelah melakukan survei tersebut, Thomson Reuters Foundation menanyakan kepada ahli yang berkompeten di bidang isu perempuan soal seberapa berbahayanya kota-kita metropolitan di seluruh dunia bagi perempuan. Survei ini pun memusatkan perhatian pada empat fokus utama, yaitu soal kekerasan seksual, kekerasan kultural (termasuk perceraian hingga menikah muda), pelayanan kesehatan, hingga kesempatan kerja. Hasilnya, Jakarta menempati peringkat 9. Berikut ini urutannya:

  1. Kairo
  2. Karachi
  3. Kinshasa
  4. Delhi
  5. Lima
  6. Mexico City
  7. Dhaka
  8. Lagos
  9. Jakarta
  10. Istanbul

Penyebab Maraknya Kasus Pelecehan

Sepanjang tahu 2016 banyak sekali kasus-kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia. Contohnya pelecehan seksual yang dialami wanita di angkutan umum busway dan ada juga pemerkosaan yang dialami seorang anak di daerah Bengkulu yang diperkosa secara bergiliran oleh segerombolan remaja dan setelah itu dibunuh dan mayatnya dibuang begitu saja.

Kejahatan seksual ini sangat mengancam dan membahayakan anak–anak dan perempuan–perempuan yang ada di Indonesia. Sekaligus menggangu sikis seorang anak.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan kejahatan yang sangat memilukan ini, antara lain besarnya hawa nafsu seseorang untuk melakukan pemerkosaan kepada seorang wanita yang dianggapnya menarik, pemerkosaan juga bisa dilakukan karena untuk menguasai harta korban, untuk melampiaskan amarah pelaku kepada korbannya karena perasaannya ditolak oleh si korban, adanya kesempatan untuk melakukan kejahatan itu, faktor pergaulan seseorang yang sangat bebas dan juga kurangnya ilmu agama yang diketahui si pelaku.

Selain faktor–faktor diatas, ada juga faktor seseorang melakukan tindak kejahatan ini diantaranya dari media sosial. Seseorang dengan sangat mudah mengakses situs–situs porno di media sosial dan bisa menjadikan acuan utuk melakukan pemerkosaan dan pelecehan seksual kepada seseorang untuk menyalurkan nafsunya.

Maka dari itu perlunya pengawasan dari orang tua untuk mengakses situs–situs yang ada di media sosial dan pemerintah juga harus menghapus situs–situs porno yang ada di media sosial, perlunya pengetahuan tentang ilmu–ilmu agama supaya tidak terpengaruh oleh hal–hal seperti itu dan pentingnya orang tua memperhatikan anak–anaknya dimana anak-anaknya itu bermain dengan teman–teman nya.

Nah, agar wanita dewasa terhindar dari tindakan pemerkosaan ini adalah jangan memakai pakaian yang sangat terbuka di jalanan, jangan naik angkutan umum yang sepi penumpang dan jangan berjalan di jalanan yang sepi di malam hari.

Lalu apa yang terjadi pada wanita yang sudah berpakaian sopan namun tetap mendapatkan pelakuan tidak baik? Nggak heran kalau itu terjadi, sebab tingkat imajinasi pria berbeda-beda. Di luar sana, di tempat umum, banyak pria yang tidak memiliki pendidikan yang baik sehingga berani melakukan apa saja demi orientasi seksualnya.

Ketahuilah bahwa pria baik-baik juga akan mengecam tindakan tak berpendidikan dilakukan oleh pria lain yang melecehkan wanita. Pada dasarnya, tingkat imajinasi pria berhubungan dengan tingkat pendidikannya tersebut untuk menjaga pandangan, pikiran dan juga attitude-nya, terlebih lagi di tempat umum.

Kriteria Utama Dalam Mengukur Keamanan Sebuah Kota

Berdasarkan penjelasan di laman resmi Thomson Reuters Foundation, terdapat empat kriteria utama untuk mengukur keamanan sebuah kota bagi perempuan.

Kriteria utama tersebut adalah tingginya angka kekerasan seksual, banyaknya praktik kultural yang mendiskriminasi perempuan, terbatasnya akses kesehatan bagi perempuan dan keterbatasan peluang ekonomi. Dilihat dari empat kriteria tersebut, kesepuluh kota di atas, termasuk Jakarta yang mencetak skor terburuk di dunia.

  • Tingginya Angka Kekerasan

Pernah tahu istilah ‘cat calling’? Itu lho tindakan merayu di jalan dengan memanggil-manggil atau menggoda yang biasanya ditargetkan pada perempuan. Sebenarnya tindakan ini sudah masuk ke kekeraasan seksual secara verbal lho. Padahal cat calling sering banget ditemui di Indonesia apalagi di kota besar seperti Jakarta.

Kekerasan seksual di Jakarta ini bahkan tergolong yang paling tinggi di seluruh Indonesia lho. Menurut catatan dari Komnas Perempuan, 2.552 kasus kekerasan seksual berasal dari Jakarta sendiri. Masih ingatkan soal maraknya pelecehan seksual di transportasi umum yang sering banget terjadi di Jakarta? Banyak pula yang sampai diperkosa dan dibunuh di tempat-tempat umum.

  • Kekerasan Dalam Rumah Tangga Sering Berujung Perceraian

Komnas perempuan menyebutkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan angka perceraian di Indonesia termasuk Jakarta tergolong sangat tinggi. Ada sebanyak 245.548 kasus kekerasan terhadap perempuan yang telah dicatat oleh pengadilan agama. Kebanyakan kasus kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga ini bahkan berujung perceraian.

Permasalahan menikah muda juga bukan masalah baru di negara kita. Meski saat ini banyak perempuan yang berkarier, dalam praktiknya masih banyak juga budaya menikah di usia muda. Bahkan sampai sekarang masih ada beberapa profesi yang mengharuskan tes keperawanan juga masih dilakukan. Hal ini dianggap tidak adil, menyusul tidak adanya persyaratan bagi laki-laki untuk melakukan tes keperjakaan.

  • Terbatasnya Akses Kesehatan Bagi Perempuan

Pertengahan Oktober lalu ada seorang wanita yang terpaksa melahirkan di dalam mobil polisi karena tidak sempat untuk dilarikan ke rumah sakit. Perempuan bernama Fitri tersebut tidak kunjung mendapat taksi dan alat transportasi lain yang mau membawanya ke RS Koja Jakarta Utara, akhirnya ia bertemu dengan mobil dinas penerangan keliling Binmas Polres Metro Jakarta Utara.

Kejadian ini membuktikan bahwa perempuan dan pelayanan kesehatan masih tergolong kurang efektif di Jakarta. Selain penduduk Jakarta yang memang sangat padat dan jalanan yang macet, pelayanan kesehatan terutama bagi perempuan dan ibu melahirkan juga dinilai sangat tidak sigap.

  • Keterbatasan Ekonomi

Tetapi ada sisi yang lumayan positif yang terlihat dari hasil survei ini. Jika fokus pada kesempatan ekonomi, edukasi dan persaingan kerja, Kota Jakarta menempati urutan ke-13. Angka ini memang bukan angka yang membanggakan, tapi seenggaknya Jakarta tidak termasuk 10 besar di kategori ancaman persaingan ekonomi bagi perempuan. Dari rata-rata peringkat di keempat kriteria tersebut, Jakarta akhirnya bertengger di posisi ke-9 secara keseluruhan.

Meski hasil survei ini jelas mengecewakan dan membuat nama bangsa tercoreng, tapi setidaknya kita jadi sadar untuk berbenah. Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang seringnya jadi kiblat metropolitan dan tren kekinian, tidak seharusnya menjadi kota yang berbahaya untuk dihuni, termasuk bagi perempuan. Bukan hanya Jakarta, pembenahan kultur kekerasan dan ancaman kriminal juga harusnya diperhatikan di seluruh kawasan Indonesia.

Pekalah terhadap sesuatu yang menyangkut dirimu dan lingkungan sekitarmu. Jadi, sangat diharapkan juga bagi pria dan juga wanita untuk menjaga pikiran, hati dan juga perilakunya dengan baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Yuk, mari bersama-sama hindari dan berantas kasus pelecehan seksual yang sampai sekarang masih marak terjadi.

Your Header Sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.