circadianshift.net

Benarkah Durasi Tidur Dapat Mempengaruhi Tingkat IQ Seseorang?

Menurut kalian, berapa kira-kira durasi tidur yang seharusnya kita butuhkan untuk tidur? Kebanyakan dari kalian pasti menjawab sekitar 8-9 jam. Tapi pendapat itu sama sekali berbeda dari apa yang dilakukan. Faktanya jam tidur yang dibutuhkan pria dan wanita ternyata berbeda dan sering lewat dari perkiraan.

Nah lho, apakah ada bahaya yang dapat terjadi ketika durasi tidur yang dibutuhkan justru malah berlebihan? Pertanyaan seperti itulah yang kerap selalu terlintas dipikiran kalian bukan? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak jawabannya di bawah ini.

IQ (Intelligence Quotient) sebuah ukuran yang biasanya dimanfaatkan untuk melakukan pengukuran serta perbandingan tingkat intelijensi otak manusia. Sebuah penelitian membuktikan bahwa wanita membutuhkan waktu tidur lebih banyak. Wanita memiliki otak yang lebih kompleks dan lebih banyak digunakan. Menurut laman The Sun, penelitian yang dilakukan oleh Institut Max Planck di Munich, Jerman, menganalisa pola tidur 160 wanita untuk mengetahui bagaimana durasi dan kualitas tidur dapat mempengaruhi kekuatan otak mereka.

Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ‘poros tidur’ seorang wanita mempengaruhi rentetan aktivitas otak yang akhirnya terhubung dengan tingginya IQ. Diketahui bahwa IQ seorang wanita akan meningkat ketika wanita tersebut dapat tidur terlelap dengan durasi lebih lama namun tanpa mimpi.

Lalu bagaimana dengan pria? Masih dalam penelitian yang sama menyebutkan bahwa ternyata pria tidak mengalami hal serupa seperti yang di alami wanita. Tidak berpengaruh apa-apa bagi pria jika tidur dengan durasi singkat ataupun lama, bahkan ketika mereka tidur lelap sekalipun. Profesor Martin Dresler, salah satu peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut mengungkapkan, hubungan antara poros tidur dan kecerdasan ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan.

Lamanya Tidur Sangat Berpengaruh Terhadap Kecerdasaan

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang yang optimal bagi seorang anak (Stirling, 2003). Setiap individu membutuhkan jumlah istirahat dan tidur yang berbeda. Jumlah tidur yang tidak cukup akan berpengaruh terhadap kemampuan untuk berkonsentrasi, membuat keputusan, menurunnya partisipasi dalam aktivitas harian dan meningkatkan iritabilitas.

Tidur juga merupakan suatu istirahat yang paling sempurna. Durasi tidur pada malam hari ternyata sangat mempengaruhi kesehatan tubuh seseorang, apalagi pada anak-anak. Sebuah penelitian yang melibatkan 142 siswa Sekolah Dasar (SD) dilakukan untuk membandingkan jumlah jam tidur dengan kinerja keterampilan akademik. Bila jam tidur anak-anak kurang dari sembilan jam biasanya menemukan kesulitan dalam belajar di sekolah keesokan harinya.

Anak-anak berusia enam dan tujuh tahun yang kurang tidur cenderung akan sulit berkomunikasi dan mengerjakan matematika. Keahlian mengeja, tata bahasa yang digunakan serta pemahaman mereka juga terganggu. Memori dan kemampuan belajarlah yang terpengaruh.

Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin banyak anak yang diijinkan menggunakan komputer dan televisi di kamar tidur mereka. Padahal fasilitas ini memicu kurangnya tidur. “Saat ini ada kekhawatiran besar mengenai kebiasaan anak-anak menonton televisi, bermain game komputer atau video pada malam hari yang membuat mereka tidak tidur pada waktu yang sama setiap malamnya,” kata Ramon Cladellas dari Universitas Autonomous di Barcelona. “Kebanyakan anak waktu tidurnya kurang dari yang direkomendasikan, padahal ini penting untuk intelektual mereka. Bahkan, ini tidak dapat diperbaiki,” tambah Cladellas.

Profesor Russell Foster, kepala ilmu saraf di Universitas Oxford mengatakan, “Sudah jelas bahwa tidur mulai pukul 21.00 hingga pukul 09.00 dapat mengoptimalkan kinerja kognitif anak.” Kebiasaan buruk tidur larut malam mempengaruhi kinerja anak dalam tugas sehari-hari, dan membuat mereka sulit menemukan solusi dari masalah yang lebih kompleks. Kalau anda menginginkan anak-anak anda cerdas, maka perlu atur waktu tidurnya.

  • Pengaruh Jam Tidur Terhadap Perkembangan Otak

Penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan Inggris menyimpulkan bahwa anak-anak yang terbiasa dengan jam tidur teratur, memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidur tak teratur.

Seperti ditulis pada Huffington Post, lebih dari 11.000 anak-anak berusia 3,5 dan 7 tahun dites kemampuan membaca, matematika, dan juga kemampuan spasialnya. Dari tes inilah pengaruh rutinitas jam tidur terhadap perkembangan otak anak dapat dibuktikan. Saat ini belum ada penelitian untuk membuktikan mana yang lebih berpengaruh pada perkembangan otak anak: jumlah jam tidur atau konsistensi jam tidur, karena keduanya saling berkaitan.

Namun para peneliti mengungkapkan bahwa ketidakteraturan jam tidur anak juga mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan, karena pada umumnya jam tidur yang tidak teratur menandakan ketidakteraturan dalam keluarga tersebut.

Anak yang tidurnya larut malam, cenderung menonton TV lebih lama di malam hari, di mana biasanya tayangan malam hari bukanlah tayangan yang sesuai untuk anak. Atau anak tersebut bermain komputer atau games hingga larut malam sehingga lupa waktu dan melewatkan sarapan esok paginya bila ia bangun siang. Anak yang tidur tak teratur juga kemungkinan besar jarang dibacakan dongeng atau cerita setiap malam.

  • Pengaruh Tidur Terhadap Tumbuh Kembang Bayi

Seluruh kejadian selama tidur merupakan repleksi dari aktivitas neuron tertentu di susunan saraf pusat yang berubah secara dramatis sesuai dengan perkembangan bayi, oleh karena itu tidur sangat berhubungan dengan perkembangan anak, dan sekaligus merupakan jendela dari perkembangan otak anak selanjutnya.

Pada waktu bangun, tubuh menggunakan oksigen dan makanan (energi) untuk keperluan kegiatan fisik dan mentalnya. Keadaan ‘katabolik’ ini juga banyak menggunakan hormone adrenalin (epineprin) dan kortikosteroid tubuh. selama tidur, terjadi keadaan sebaliknya yaitu ‘anabolik’, dimana terjadi konservasi energi, perbaikan sel-sel tubuh dan pertumbuhan. Karena konsentrasi adrenalin dan kortisol turun, maka tubuh mulai membentuk hormon pertumbuhan.

Selain berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan, hormone ini juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbaharui seluruh sel-sel yang ada di tubuh, mulai dari sel kulit, sel darah dan sel neuron di otak. Proses pembaruan sel ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan waktu bangun. Hal ini merupakan bukti yang penting bahwa tidur berefek pada tumbuh kembang anak.

Tidur yang sering pada waktu menderita sakit infeksi, dapat membantu mempercepat proses penyembuhan. Hal ini karena pengaruh meningkatnya system imunitas tubuh yang memproduksi protein tertentu untuk merespon infeksi. Oleh karena itu tidur berperan juga dalam meningkatan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Sebaliknya gangguan tidur dapat menurunkan kadar sel darah putih tubuh sehingga menurunkan efektivitas system daya tahan, mudah jatuh sakit, pertumbuhannya terganggu, kemampuan konsentrasi menurun, sulit mengerjakan sesuatu dan menjadi irritable.

  • Pengaruh Tidur Terhadap Kecerdasan

Tidak juga berpengaruh pada proses pembelajaran, intelegensi dan penampilan di sekolah. Banyak penelitian yang setuju dengan butir-butir di atas yang dilakukam pada anak dari berbagai umur. Studi di University of Connecticut memperlihatkan hubungan yang kuat antara lamanya tidur REM dengan lamanya bayi dalam keadaan ‘queit alert’. Pada kondisi ini, bayi terlihat cerah, matanya cerdas, rileks, sangat responsive, meskipun tubuhnya relative kuang aktif, yang sering disebut dengan ‘alooker dan a thinker’.

Studi perkembangan tidur di Stanford University menunjukkan bahwa proporsi tidur REM bayi tidak saja karena proses maturitas otak, tetapi karena pengaruh faktor lingkungan maskipun belum jelas, namun peran orang tu diduga berpengaruh. Bayi yang irritable mungkin disebabkan karena ketidak seimbangan faktor kimiawi seperti progesterone atau kortisol.

Tingginya konsentrasi kortisol pada bayi ternyata berhubungan dengan penurunan lamanya tidur nonREM. Jadi ada kaitannya antara faktor kimiawi, pola tidur dan perilaku pada saat bangun. Studi yang dilakukan pada bayi umur 2-3 bulan memperlihatkan bahwa makin irritable dan impersisten bayi tersebut, makin lambat kecepatan belajarnya.

Tidur pagi dan atau siang (naps) ternyata mempunyai pengaruh tersendiri terhadap proses tumbuh kembang anak, begitu pula antara tahapan tidur nonREM dan REM. Penelitian memperlihatkan hubungan yang kuat antara tidur siang dengan lamanya atensi, lamanya berada dalam keadaan ‘quiet alert’ dan cepatnay proses pembelajaran.

Studi lain memperlihatkan anak berumur 3 tahun yang tidur siang akan lebih adaptatif, artinya anak akan mudah mnyesuaikan dengan keadaan lingkungan yang baru. Adaptasi adalah proses yang sangat penting untuk keberhasilan sekolanya. Anak yang tidak tidur siang, dan tidak adaptif ternyata lebih sering mengalami sulit tidur malam.

Penelitian tahun 1925, yang dilakukan terhadap 600 anak dengan IQ > 140 memperlihatkan bahwa anak yang mendapatkan penghargaan ternyata tidurnya lebih lama. Hasil yang sama juga diperlihatkan pada 5500 anak sekola di Jepang. Temuan ini di konfirmasi pada tahun 1983 di pusat tidur Canada, bahwa anak dengan IQ superior mempunyai total tidur lebih lama kira-kira 30-40 menit setiap malamnya dibandingkan rata-rata anak pada umur yang sama.

Studi lain juga mengatakan bahwa tidur dapat meningkatkan pergaulan anak dan penampilan di sekolah. Pada orang dewasa efek gangguan tidur lebih mengarah pada faktor emosi, sedangkan pada bayi dan anak lebih pada kognitif, pertumbuhan, penampilan motoriknya dan perkembangan otaknya.

Berapa Lama Durasi Tidur Yang Ideal?

Lydia DonCarlos, PhD, dari Loyola University Chicago Stritch School of Medicine adalah salah satu ahli yang membuat rekomendasi berapa banyak waktu tidur yang dibutuhkan seseorang. Panel tersebut, yang dipimpin National Sleep Foundation, membuat rekomendasi berdasarkan usia, mulai dari bayi yang baru lahir (yang memerlukan 14-17 jam tidur per hari) sampai dewasa berusia 65 tahun ke atas (7-8 jam per hari).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja berusia 14-17 tahun memerlukan 8-10 jam tidur per malam. Angka ini lebih tinggi dibanding rekomendasi sebelumnya yaitu 8,5-9,5 jam per malam. Dr. DonCarlos dan para ahli lainnya dalam panel multidisiplin memeriksa temuan dari 320 studi yang melaporkan durasi tidur, dan mereka menemukan adanya efek kesehatan dari lamanya durasi tidur, yang merupakan konsekuensi bila terlalu lama atau terlalu sedikit tidur. Hasilnya dipublikasikan dalam Sleep Health: Journal of the National Sleep Foundation.

“Prosesnya sangat teliti,” kata Dr. DonCarlos, yang mewakili American Association of Anatomists dari 6 ahli tidur yang dipilih National Sleep Foundation. “Kami masih harus menjalani penelitian lebih lanjut untuk mempelajari fungsi tidur. Kami tahu tidur itu menyegarkan dan penting untuk konsolidasi memori, tapi kami tidak tahu secara detail apa fungsi dari tidur bahkan bagaimana kita bisa menghabiskan ⅓ hidup kita hanya untuk tidur,” tutur Dr. DonCarlos.

Meskipun setiap golongan usia sudah dikelompokkan berdasarkan berapa lama rekomendasi waktu mereka untuk tidur, National Sleep Foundation dalam laporan utamanya di Sleep Health Journal menyebutkan bahwa tidak ada jumlah waktu sempurna yang pas bagi setiap orang. Berikut ini rekomendasi jam tidurnya:

  1. Bayi baru lahir (0-3 bulan): 14-17 jam setiap hari
  2. Bayi (4-11 bulan): 12-15 jam setiap hari
  3. Balita (1-2 tahun): 11-14 jam setiap hari
  4. Pra-sekolah (3-5 tahun): 10-13 jam setiap hari
  5. Usia sekolah (6-13 tahun): 9-11 jam setiap hari
  6. Remaja (14-17 tahun): 8-10 jam setiap hari
  7. Dewasa muda (18-25 tahun): 7-9 jam setiap hari
  8. Dewasa (26-64 tahun): 7-9 jam setiap hari
  9. Manula (65 tahun ke atas): 7-8 jam setiap hari

Dengan tidur yang cukup, kesehatan kita akan lebih baik dan maksimal. Semua organ yang lelah bekerja tentu membutuhkan waktu istirahat, termasuk otak, kulit, sistem metabolisme, dan hormon. Pada saat tidur, informasi yang masuk ke otak akan disusun dengan rapi sehingga saat bangun tidur kita sering kali menemukan solusi dari masalah di hari sebelumnya.

Sel dalam tubuh akan berregenerasi saat kita tidur pada tingkat paling maksimal. Makanya tak jarang, jika tidur sesuai dengan rekomendasinya, kulit seseorang akan terlihat sehat dan kencang. Selain itu, sistem kekebalan tubuh juga akan meningkat karena sel-sel kita diperbarui dan hormon melatonin yang membantu memperkuat sistem imun biasanya bekerja paling efektif saat malam, saat gelap dan kita sedang terlelap.

Cara Lain Yang Bisa Dilakukan Untuk Meningkatkan IQ

Kemampuan IQ diyakini tergantung bawaan dari lahirnya, yang maksudnya kecerdasan orang tua akan menurun kepada anaknya bahkan ada yang mengatakan bahwa faktor keturunan ini akan mempengaruhi atau membantu baiknya kecerdasan seorang anak hingga 50%. Akan tetapi tentunya kemampuan IQ ini dapat diasah dan ditingkatkan berdasarkan penjelasan dari para ahli.

Untuk mengasahnya, anda perlu terus bekerja dan mempelajari hal baru. Selain dengan banyak membaca, daya pikir dan kemampuan nalar juga bisa ditingkatkan dengan kebiasaan-kebiasaan simpel. Beriikut ini beberapa yang terbukti bisa menaikkan kecerdasan intelektual atau IQ menurut penelitian:

Belajar Membaca Cepat

Photo Reading merupakan teknik yang sangat mudah dipelajari yang akan membantu anda memproses informasi tertulis dalam jumlah besar lebih cepat dan membantu anda mengingat informasi tersebut lebih baik dibandingkan dengan metode tradisional yang diajarkan di sekolah.

Meskipun kebanyakan teknik membaca cepat mengajarkan anda cara untuk menggerakkan mata anda dengan lebih cepat dalam setiap halaman yang anda baca, Photo Reading merupakan sistem membaca yang mengajarakan anda untuk menggunakan pikiran sadar dan bawah sadar anda ketika membaca. Pada dasarnya, Photo Reading dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa bahan bacaan yang mudah dibaca dengan menerapkan beberapa teknik yang berbeda setiap waktu. Bahan pertama melibatkan pikiran sadar anda dan menggunakan metode lain untuk meningkatkan daya ingat anda dan memahami materi.

Ambil Waktu Singkat Untuk Beristirahat

Belajarlah selama 20 menit lalu ambil waktu untuk beristirahat secara singkat. Metode ini efektif karena hal-hal yang anda pelajari pada awal dan akhir pada sesi belajar anda akan bertahan lebih lama dalam ingatan anda. Anda bisa mengunduh (download) Motivator Software secara cuma-cuma sehingga setiap 20 menit akan muncul pesan pada komputer anda yang mengingatkan anda untuk beristirahat.

Latih Semua Indra

Para ilmuwan menemukan bahwa otak manusia belajar paling efektif melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan berbagai indra. Anak-anak dan orang dewasa belajar sangat baik ketika mereka belajar melalui kegiatan yang melibatkan penglihatan, suara, emosi, timbale balik, orientasi ruang dan bahkan indra pengecap dan perasa.

Mike Adams, seorang penulis buku, menjelaskan dalam bukunya bahwa seorang anak yang diberikan definisi ‘tanpa bobot’ secara verbal memperoleh informasi mengenai kata tersebut melalui 1 dimensi: pendengaran. Jika anda menunjukkan kepada seorang anak film mengenai seorang astronot yang mengapung di luar angkasa ketika anda mengucapkan kata ‘tanpa bobot’, anda memberikan informasi kata tersebut melalui 2 dimensi; dimana si anak melihat dan mendengar kata tersebut. Dan jika anda menyuruh si anak melompat-lompat menggunakan trampoline dan meneriakkan kata ‘tanpa bobot’ketika si anak berada di udara, pengertian kata tersebut akan semakin tertanam lebih dalam di otaknya.

Gunakan Tubuh Untuk Membantu Mempelajari Sesuatu

Gerakan tubuh merupakan proses kunci dalam perkembangan dan proses belajar. Brain Gym (Olahraga Otak) merupakan program olahraga yang sederhana, yang dikembangkan selama 25 tahun oleh para spesialis pendidikan, Dr. Paul Dennison. Brain Gym dapat membantu anda dalam hal-hal sebagai berikut:

  • Pemahaman
  • Konsentrasi
  • Berpikir secara abstrak
  • Daya ingat
  • Keletihan mental
  • Kemampuan menyelesaikan tugas
  • Keseimbangan fisik dan koordinasi

Meditasi

Neuropsychologist mengatakan bahwa meditasi dapat mengubah struktur otak anda. Hasil scan MRI dari para meditator menunjukkan kegiatan otak lebih banyak dalam sirkuit otak anda khususnya dalam memperhatikan sesuatu. Ketika suara-suara mengganggu diperdengarkan pada para meditator yang sedang melalui Scan MRI, suara-suara tersebut hanya memiliki pengaruh kecil pada area dalam otak mereka yang melibatkan emosi dan proses pengambilan keputusan dibandingkan dengan orang-orang yang tidak bermeditasi atau meditator yang kurang berpengalaman.

Nah lho, ternyata banyak efek samping yang bisa kita dapatkan apabila terlalu berlebihan dalam mengistirahatkan tubuh. Untuk itu sebaiknya konsisten lah terhadap durasi anda agar kesehatan anda pun tetap terjaga.

Your Header Sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.