circadianshift.net

Keiro No Hi, Perayaan Khusus Yang Dibuat Untuk Menghormati Para Lansia

Jepang merupakan salah satu negara yang mempunyai usia harapan hidup longevity tertinggi di dunia, yang berarti masyarakatnya panjang umur. Umur terkait dengan jatah hidup, di sisi lain ada hubungannya dengan taraf hidup, diet makanan, taraf kesehatan, jaminan hari tua dan sebagainya. Di Jepang, ternyata selain perayaan hari ibu (Haha no hi), hari ayah (Chichi no hi), hari anak (Kodomo no hi), perayaan anak perempuan (Hina matsuri), perayaan anak laki-laki (Koi no bori), ternyata ada juga loh hari kakek nenek yang disebut Keiro no Hi.

Keiro no Hi adalah hari perayaan untuk menghormati para lansia, yaitu para kakek dan nenek. Jumlah penduduk Jepang jika dikategorikan berdasarkan usia, maka bentuknya adalah piramida terbalik. Artinya, jumlah lansia berada di tingkatan paling atas, berbanding terbalik dengan jumlah bayi atau kelahiran (sangat kecil).

Asal Mula Terciptanya Perayaan Keiro No Hi

Asal mula hari ini diyakini berasal dari kepercayaan orang Tionghoa (banyak kebudayaan Jepang mengadopsi dari Tionghoa). Orang Jepang biasanya mengenakan pakaian merah pada ulang tahun ke-60 mereka karena usia 60 tahun merupakan satu siklus kehidupan pada kalender Tionghoa dan setelah 60 tahun, dikatakan bahwa mereka akan menjadi bayi kembali. Bayi di Jepang dipanggil “aka-chan”, atau “si merah”.

Hari penghormatan orang usia lanjut berasal dari ide seorang kepala desa bernama Kadowaki Masao dari Distrik Taka, Prefektur Hyogo (sekarang kota Taka) yang mengusulkan “Hari Orang Tua” (Toshiyori no hi). Di desa yang dipimpinnya tanggal 15 September sebagai hari untuk menghormati orang lanjut usia pada 15 September dan kebetulan di pertengahan bulan September merupakan masa sepi dari pekerjaan bertani.

Sejak tahun 1950, acara ini meluas ke seluruh Prefektur Hyogo dan selanjutnya dijadikan hari peringatan secara nasional. Di tahun 1964, Hari Orang Tua (Toshiyori no hi) diganti namanya menjadi Hari Orang Lanjut Usia (Rōjin no hi) karena istilah “toshiyori” (orang tua) dirasa kurang sopan. Di tahun 1966, Hari Orang Lanjut Usia dijadikan hari libur setelah berubah nama menjadi Hari Penghormatan Orang Lanjut Usia (Keiro no hi).

Keiro no hi (Hari Menghormati Manula) merupakan hari di mana orang-orang Jepang memperhatikan manula secara khusus. Para tetangga secara sukarela membagikan “obento” atau nasi kotak kepada orang-orang tua (manula) di lingkungannya. Ada pula pertunjukkan “keirokai” yang diselenggarakan di desa-desa yang mana pemuda-pemudi dan anak-anak sekolah mempersiapkan tarian dan nyanyian untuk sebuah upacara “keirokai” yang spesial. Manula yang hadir akan disuguhi makan siang, teh dan kue-kue setelah pertunjukan tersebut.

Hari Penghormatan Terhadap Orang Lanjut Usia

Hari libur ini menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) digunakan untuk “mencintai orang lanjut usia atas sumbangsih selama bertahun-tahun terhadap masyarakat dan merayakan umur panjang.”

Selain karena tingginya persentase orang lanjut usia (23.3%), rupanya orang Jepang sangat menghargai peran dan keberadaan orang lanjut usia di dalam masyarakat. Melihat data dan statistik yang ada, orang Jepang memiliki umur yang paling panjang diantara semua bangsa di dunia. Di samping karena majunya teknologi dalam bidang kesehatan, orang lanjut usia pun tetap menjaga kesehatan dirinya dengan caranya sendiri.

Jarang sekali kita mendengar kalau orang tua di Jepang hanya duduk atau tiduran saja di rumahnya, kecuali dia sakit. Tetapi mereka para orangtua justru memilih berkumpul untuk senam pagi atau sore bersama atau sekedar bermain permainan tradisional Jepang, mirip seperti gabungan bermain golf dan kelereng. Pelajaran berharga yang bisa kutip dari perayaan yang dilakukan ini adalah kita harus menghormati orang tua, bukan hanya dengan membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga membiarkan mereka beraktifitas sendiri.

Keiro no Hi tidak harus dirayakan secara besar-besaran layaknya festival. Para cucu juga bisa merayakan hari tersebut dengan kegiatan seperti membantu kakek-nenek di rumah, memijat mereka, memberi bunga, hadiah ataupun kartu dan sebagainya. Keluarga-keluarga menghabiskan waktu bersama dan berdoa untuk kesehatan kakek dan nenek.

Inti dari perayaan tersebut adalah mengingat kakek-nenek yang mungkin keberadaannya sering terlupakan dan menyenangkan mereka. Bagi orang Jepang, Keiro no Hi sendiri merupakan hari yang sangat penting dan tidak boleh terlupakan. Perayaan besar atau sederhana ini memiliki nilai dan makna yang sama penting.

Kegiatan Yang Dilakukan Para Lansia di Jepang

Negara empat musim ini menempati urutan teratas dengan jumlah lanjut usia (lansia) lebih banyak dibandingkan dengan angka kelahiran bayi di sana. Menurut penelitian U.S. Census Bureau, Internasional Data Base, diperkirakan pada tahun 2050 jumlah kelahiran di Jepang mencapai titik terendah.

Bila Anda pernah menonton film atau drama Jepang di televisi maupun DVD, Anda mungkin akan sering menemui pekerja paruh waktu di tempat umum adalah para lansia. Hal tersebut sudah biasa. Justru bila menemukan pekerja paruh waktu yang masih berusia muda membuat orang Jepang berpikir bahwa ada maksud tertentu di balik itu semua. Misalnya untuk menambah uang saku (biasanya dilakukan oleh pelajar asing), mengisi waktu liburan atau memang berasal dari keluarga miskin. Tapi pada umumnya akan sering ditemui para pekerja paruh waktu ini adalah para lansia.

Lansia di Jepang dikenal sangat mandiri. Semua pekerjaan dapat mereka lakukan sendiri walau dengan usia yang cukup senja. Kebiasaan berpikir positif membuat para lansia di Jepang nampak lebih awet muda dibandingkan dengan lansia di negara lain. Bahkan dengan usia yang tua seperti itu mereka masih dapat bekerja dengan produktif. Bangsa Jepang menanamkan kemandirian ini pada masyarakatnya secara umum. Tujuannya agar seluruh waktu dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna.

Pada usia muda mereka bekerja di kantor dan saat sudah tua mereka mengisi waktu dengan bekerja paruh waktu. Walau sebenarnya rata-rata para lansia di Jepang telah memiliki tabungan hari tua yang dapat mencukupi hidup, namun mereka sangat percaya pada keteraturan yang sudah turun-temurun ini. Mereka telah merasakan sendiri gunanya memanfaatkan waktu luang dalam usia yang sudah cukup tua. Mereka tidak akan merasa kesepian walau hidup sendiri.

Kemandirian lansia di Jepang memang patut diacungi jempol. Budaya tidak bergantung pada orang lain memang selalu ditanamkan dalam masyarakat Jepang. Berbeda dengan lansia di Indonesia yang tinggal bersama keluarga besarnya dan menikmati hari tua dengan bersantai di rumah atau jalan-jalan.

Di Jepang ada lansia yang memilih hidup sendiri karena tidak ingin merepotkan anaknya. Ia bisa memilih tinggal di panti jompo atau tinggal di rumah sendiri karena memang pada budaya Jepang, setelah anak menikah (terutama anak perempuan), anak tersebut akan mengikuti kemana suaminya pergi. Namun di beberapa keluarga juga masih ada yang hidup bersama para kakek dan nenek ini (lansia).

Walau tinggal bersama keluarga besar, para lansia ini tidak lantas memangkukan tangan dan mengharapkan segala sesuatu dari anak-anak mereka. Mereka justru lebih kreatif dan tetap bergaul. Mereka membuka usaha bahkan menjadikan usaha mereka turun-temurun pada anak-anaknya.

Baik dari keluarga kaya maupun miskin, kehidupan masyarakat Jepang relatif makmur. Pemerintah Jepang juga tidak memberikan batasan usia bagi para lansia yang ingin untuk terus berkarya. Membuka usaha sendiri atau bekerja paruh waktu pada perusahaan tidak menjadikan mereka dibeda-bedakan. Baik menjadi petugas kebersihan, supir angkutan maupun pelayan restoran, sejauh mereka dapat bekerja dengan baik tidak akan menjadi permasalahan bagi pemerintah maupun pemilik usaha.

Berikut ini adalah beberapa kegiatan para lansia di Jepang:

1. Bekerja Part Time

Saking produktifnya mereka, bus kota dan taksi di sini nyaris semua dikemudikan oleh ‘kakek-kakek’. Di usia yang bisa dikatakan sudah tua, mereka masih mampu bekerja dengan baik. Usia muda mereka digunakan untuk bekerja di kantor dan mengisi hari tua dengan kerja part time sebagai pengemudi. Sebenernya tabungan atau asuransi hari tua sudah mencukupi, namun hal tersebut mereka gunakan untuk mengisi waktu luang.

2. Pergi ke Tempat Hiburan Atau Permainan

Lansia yang sudah sangat tua setiap pagi juga banyak yang mengisi waktunya dengan pergi ke mall untuk menghilangkan rasa penat. Jadi jangan heran jika area permainan anak-anak (seperti timezone) dipenuhi oleh para lansia di pagi hingga siang hari. Oiya, transportasi umum di sini gratis untuk anak-anak di bawah 6 tahun dan lansia di atas 80 tahun. Jadi di pagi hari bus kota sering penuh oleh para lansia yang sedang jalan-jalan.

3. Hidup Mandiri

Kebanyakan lansia hidup sendiri tanpa anak dan pasangan (jika pasangannya sudah meninggal). Jika pasangan masih hidup, maka mereka hidup berdua. Anak perempuan di Jepang, ketika sudah menikah maka nama marga-nya berubah mengikuti marga suaminya. Dengan demikian tidak banyak kewajiban yang harus dia tunaikan kepada orangtuanya (seperti kewajiban anak kepada orang tua dalam Islam). Anak laki-laki sulung yang menjadi penerus keluarga. Itupun kebanyakan mereka tinggal terpisah dari orangtuanya (di luar kota).

4. Aktivitas Lainnya

Kegiatan untuk para lansia pun terkoordinasi dengan baik. Mereka kerap melakukan aktivitas bersama-sama seperti menjadi volunteer, memasak, acara kebudayaan, senam lansia, keterampilan dan berbagai kesibukan untuk para lansia.

5. Meninggal Sendirian

Kejadian lainnya yang membuat semakin melongo adalah lansia yang ditemukan meninggal di dalam rumahnya, setelah beberapa hari barulah diketahui. Itu diakibatkan karena mereka tinggal seorang diri, sampai akhirnya meninggal pun tidak ada yang tahu. Barulah para tetangga menyadari ketika si nenek atau si kakek tidak kelihatan keluar rumah dalam beberapa hari.

Dengan demikian, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan tingkat kelahiran bayi di Jepang sangat rendah seperti di bawah ini:

  • Tidak mau punya anak karena biaya pendidikan anak sangat mahal.
  • Tidak mau punya anak karena ketika punya anak, seorang wanita harus menghentikan karirnya (keluar dari pekerjaan) karena harus fulltime merawat anak. Di sini tidak ada asisten rumah tangga.
  • Tidak ada kewajiban merawat orangtuaa, apalagi jika punya anak perempuan yang marga-nya berubah ketika dia sudah menikah.
  • Punya anak tidak ada jaminan akan dirawat di hari tua, karena tempat tinggal yang terpisah bahkan jauh. Di hari tua pun mereka tetap sendiri, apalagi jika pasangannya sudah meninggal.

Duh, kalo di Indonesia ada lansia yang jalan-jalan sendirian tanpa ada yang menemani, pasti orang yang melihat langsung bertanya: “di mana anaknya, di mana cucunya?”

Nah, meskipun di Indonesia tidak ada hari seperti ini secara resmi, tidak ada salahnya dong kita ikut merayakan “Keiro no Hi” untuk lebih menghormati dan menyayangi kakek-nenek ataupun orang-orang usia lanjut. Sebuah pelukan hangat bisa sangat berarti bagi mereka loh.

Your Header Sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.