circadianshift.net

Sempat Disebut Sebagai “The Next Habibie”, Akhirnya Bualan Dwi Terbongkar

Belakangan ini jagat maya serta sejumlah media sosial gempar karena pengakuan dari seseorang bernama Dwi Hartono. Dia menjadi topik hangat dalam perbincangan bukan karena prestasinya namun karena dia meminta maaf atas kebohongan yang dia buat sebelumnya.

Dwi Hartanto merupakan seorang pria yang lahir pada 13 Maret 1982, yang menurut kabar pada bulan Februari digadang-gadang bakal menjadi the next Habibie yang ternyata menyimpan kebohongan besar yang tentunya membuat warga Indonesia serta teman-teman sekampus dari Dwi juga merasa ikut kecewa.

Dia sempat disebut sebagai “Penerus Habibie”, Presiden Ke-3 Indonesia dan tokoh besar dalam bidang teknologi. Tapi ternyata semua yang dikatakan Dwi dalam berbagai kesempatan hanyalah klaim. Dwi Hartanto dan berbagai bualannya ramai jadi perbincangan warganet di media sosial saat ini.

Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa kebohongan semacam ini mampu menembus proses verifikasi media dan menjadi cerita inspiratif yang laku keras di internet? Lewat klarifikasi di atas materai, pemuda yang bersekolah di Technische Universiteit Delft Belanda itu mengaku ‘khilaf’ telah mengedarkan informasi tak benar seputar kompetensi dan latar belakangnya di bidang teknologi dirgantara.

Apa Saja Bentuk Kebohongan Yang Dilakukan Dwi?

Melalui klarifikasi dan permohonan maaf yang diunggah di situs Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft, Dwi memberikan klarifikasi soal sejumlah klaimnya. Dwi menuliskan dokumen panjang lebar berisi klarifikasinya. Berikut di bawah ini beberapa kebohongan yang sempat dilakukan oleh Dwi:

1. Bukan Lulusan Tokyo Institute of Technology Jepang

Pertama, dia meluruskan latar belakang akademiknya. Dia adalah lulusan S1 dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Fakultas Teknologi Industri, Program Teknik Informatika, lulus pada 15 November 2005. Jadi, bukan lulusan Tokyo Institute of Technology Jepang.

Dia kemudian mengambil program S2 di TU Delft, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics, and Computer Science, dengan tesis Reliable Ground Segment Data Handling System for Delfi-n3Xt Satellite Mission. Memang ini beririsan dengan sistem satelit, tapi khusus mengenai satellite data telemetri dan ground segment network platform-nya.

2. Bukan Satu-satunya Orang non-Eropa Yang Masuk ke Ring Satu Teknologi ESA

Klarifikasi hampir sama juga diberikannya saat dia diwawancarai sebuah program televisi Mata Najwa. Dia menambahkan tidak benar bahwa dia adalah satu-satunya orang non-Eropa yang masuk ke ring satu teknologi Badan Antariksa Eropa (ESA).

3. Kebohongan Mengenai Pertemuannya Dengan Habibie

Sebenarnya bukan Habibie yang meminta bertemu dengannya, tapi dialah yang meminta pihak KBRI Den Haag untuk dipertemukan dengan Habibie. Karena semua kebohongan itu diposting oleh Dwi di akun media sosialnya, salah satunya Facebook, Dwi mengaku sudah menutup akun tersebut. Dwi membenarkan kalau dia diundang ke acara Visiting World Class Professor di Jakarta. Tapi segala kompetensi yang disebutkan sebagai alasan dia diundang adalah tidak benar.

4. Kemenangan Kompetisi di Jerman Juga Bohong

Dwi mengaku berbohong mengenai kemenangan di kompetisi antar badan antariksa di Jerman pada 2017. Dia juga mengaku memanipulasi cek hadiah. Teknologi Lethal weapon in the sky dan paten beberapa teknologi lain, diakuinya tidak pernah ada. Demikian juga bahwa dirinya dan tim sedang mengembangkan teknologi pesawat tempur generasi keenam. Itu semua tidak benar.

5. Tidak Pernah Merancang Satellite Launch Vehicle

Dwi juga membantah pemberitaan di media online. Dwi mengatakan tidak benar dia dan tim merancang bangun Satellite Launch Vehicle. Yang benar, dia adalah bagian dari tim mahasiswa yang merancang subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE. Dia sekaligus membantah ada roket bernama TARAV7s.

Lalu, Bagaimana Kebohongan Dwi Terungkap?

Agustus lalu, dengan segudang prestasi yang diklaimnya, KBRI memberikan penghargaan kedirgantaraan kepada kandidat doctoral di Technische Universiteit Delft ini di HUT RI ke-72. Tapi kejanggalan demi kejanggalan yang muncul membuat rekan-rekan Dwi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mencari tahu kebenaran klaim Dwi Hartanto selama ini.

Untuk mencari tahu kebenarannya, dibentuklah sebuah tim investigasi. Salah satu anggota tim investigasi terkait prestasi yang diklaim Dwi mengatakan ada kejanggalan yang mulai terlihat sejak September 2017.

Penyelidikan tentang kebohongan Dwi bermula saat dia diundang sebagai pembicara di salah satu konferensi tentang kedirgantaraan di Indonesia. Saat itu alumni TU Delft di Indonesia menyelidiki background Dwi, namun tak menemukannya.

“Alumni yang awalnya nyelidiki ini adalah dosen di Indonesia, dulunya TU Delft juga, bidang aerospace engineering. Dia merasa ada yang aneh dengan Mas Dwi, lalu dicek backgroundnya. Agak dalam juga tuh ngeceknya,” kata salah seorang mahasiswa TU Delft.

Mereka juga menanyakan ke European Space Agency (ESA) karena Dwi mengaku bekerja di sana. Namun ternyata setelah dikroscek, tidak ada nama Dwi Hartanto di ESA. Dia tak tahu sejak kapan Dwi Hartanto berbohong. Namun menurutnya penyelidikan kasus Dwi sudah berlangsung cukup lama.

Akhirnya, Dwi diinterogasi oleh PPI Delft, PPI Belanda dan KBRI Den Haag, dia mengakui kesalahannya. Dwi yang menyelesaikan pendidikan S1 nya di Akprind Yogyakarta itu juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Karena sudah ketahuan, mau tak mau Dwi harus mengakui kesalahannya dan tidak bisa menggelak lagi. Melalui surat pernyataan tertulis, Dwi akhirnya minta maaf karena telah menimbulkan kehebohan atas prestasi ‘kibul’ yang sempat dia gembar-gemborkan ke publik. Dalam pernyataannya, Dwi pun mengaku khilaf. Berikut di bawah ini adalah bentuk pernyataan tertulis yang dibuat oleh Dwi Hartanto.

Saya sangat berharap agar kalian semua bisa berkenan untuk membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan yang sudah saya lakukan. Untuk itu saya berjanji:

1. Tidak akan mengulangi kesalahan atau perbuatan tidak terpuji ini lagi.
2. Akan tetap berkarya dan berkiprah dalam bidang kompetensi saya yang sesungguhnya dalam sistem komputasi dengan integritas tinggi.
3. Akan menolak untuk memenuhi pemberitaan dan undangan berbicara resmi yang di luar kompetensi saya sendiri, utamanya apabila saya dianggap seorang ahli satellite technology and rocket development dan otak di balik pesawat tempur generasi keenam.

Penyebab Dwi Hartanto Berbohong

Setelah terungkapnya kebohongan besar yang dilakukan Dwi, tak heran jika banyak orang yang bertanya-tanya kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu. Apakah Dwi mengalami kondisi psikologis tertentu sehingga bisa dengan lancar menyatakan berbagai hal yang tidak ada kebenarannya? Itulah pertanyaan yang sering muncul mengingat apa yang sudah dilakukan Dwi. Tapi semua pertanyaan itu sudah terjawab lewat seorang psikolog Ajeng Raviando.

Dia mengatakan bahwa untuk dapat memastikan apakah Dwi mengalami kondisi psikologi seperti pathological liar atau mythomania, harus ada pemeriksaan mendalam terlebih dahulu. Barulah bisa ditegakkan satu diagnosis apakah Dwi mengalami gangguan psikologis atau enggak.

Sebenarnya ada beberapa tujuan yang mendasari seseorang berbohong, diantaranya ingin mendapat pengakuan, menghindari hukuman, merasa ada keuntungan yang didapat ketika berbohong atau untuk mendapatkan kepercayaan diri, misalnya ketika berbohong dia merasa lebih dianggap keren.

Dalam kasus yang dialami Dwi, psikolog itu melihat ada kesempatan tertentu yang dilihat Dwi sehingga melakukan kebohongan. Misalnya, jika dia mengaku suatu hal, dia akan menarik perhatian atau bisa dapat pengakuan. Intinya dia merawa dengan berbohong, dia bisa mendapatkan keuntungan dibandingkan harus berbicara mengenai dirinya apaadanya. Sebenarnya hal semacam itu tidak boleh dilakukan, bagaimanapun kita harus bangga dengan diri kita sendiri.

Untuk itulah perlunya punya jati diri. Jika mengakui prestasi yang bukan milik kita, maka kita harus siap dengan sanksi sosial yang akan didapat, misalnya saja seperti dilecehkan, dimusuhi atau bahkan bisa-bisa tidak memiliki teman.

Pencabutan Penghargaan Dwi Oleh KBRI

Pada surat terbuka yang ditulis oleh Deden Rukmana, alumni TU Delft yang kini menjadi Professor and Coordinator of Urban Studies and Planning di Savannah State University, AS. Lewat surat yang diunggah ke akun Facebook miliknya, Deden memberikan kritik keras dan mencoba menyebut beberapa kejanggalan atas skandal Dwi, menurut versinya.

“Rasa kebanggaan dan kekaguman saya terhadap Dwi Hartanto hilang ketika saya menerima rangkaian pesan dari WA group Pengurus I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) yang membahas tentang kebohongan yang dilakukan (Dwi). Pada tanggal 10 September 2017 bulan lalu, salah seorang anggota pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap berisikan investigasi terhadap beragam klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto,” tulis Deden dalam suratnya.

Dua dokumen seperti yang disebut Deden berisi berbagai bukti dan klarifikasi tentang kejanggalan atas kiprah kebohongan Dwi yang dikumpulkan oleh “tim investigasi” tersebut. Setelah apa yang sudah diperbuat oleh Dwi, KBRI pun tak mau tinggal diam gitu aja, mereka mencabut gelar penghargaan Dwi Hartanto setelah pemuda itu diketahui terlibat skandal klaim prestasi palsu.

Fakta Menarik Dwi Hartanto

Setiap keburukan dan kelemahan yang dimiliki setiap manusia, mereka juga pasti punya kebaikan dan prestasi yang harus tetap dihargai. Keburukan apapun yang dilakukannya, prestasi yang dimilikinya tetap tak boleh dilupakan begitu saja. Begitulah yang terjadi pada Dwi Hartanto. Meski dia ketahuan menyimpan berbagai kebohongan untuk menaikkan namanya, akan tetapi dia memiliki sejumlah prestasi yang patut diacung jempolkan.

Berikut adalah beberapa fakta menarik Dwi Hartanto yang patut dibanggakan:

1. Mendapatkan Beasiswa S2 Dari Kemkominfo

Dwi pernah meraih beasiswa S2. Tak tanggung-tanggung, beasiswa yang dia dapat itu dibiayai oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) pada 2007 untuk mengenyam pendidikan S2 di TU Delft.

“Betul bahwa dia (Dwi Hartanto) menerima beasiswa pada tahun 2007,” ujar Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Noor Iza. Namun sambungnya, Dwi sudah tidak memiliki keterkaitan apapun lagi dengan Kemenkominfo, sehingga sudah tidak ada perjanjian atau kontrak yang mengikat antara kedua belah pihak.

“Itukan sudah 10 tahun yang lalu, berarti dia sudah selesai S2-nya,” tambah Noor. Tentu beasiswa ini tak diraih Dwi dengan mudah, dia melalui tahap seleksi yang cukup ketat dari Kemkominfo.

2. Kuliah di TU Delft

Dwi memiliki kesempatan yang tidak main-main untuk bisa bersekolah di TU Delft, salah satu universitas tertua di Belanda. TU Delft dibangun pada tahun 1842 dan memiliki lebih dari 2.100 peneliti serta 200 profesor. Universitas teknik ini menjadi kampus tertua, terbesar dan diklaim paling komprehensif di Belanda. Tak heran kalau TU Delft memiliki alumni terkenal, yakni tokoh-tokoh bergelut di bidang keilmuan seperti antariksa dan berbagai keilmuan teknik lainnya.

Tentu saja hal ini menjadi prestasi Dwi yang sebenarnya dan menjadi salah satu alasan mengapa dirinya cukup lama tinggal di Belanda. Untuk bisa bersekolah di TU Delft tentu Dwi mengalami seleksi yang ketat hingga hal inilah yang memang menjadi nilai plus bahwa diaspora Indonesia satu ini memang benar-benar berkualitas.

3. Proses S1 Hingga S3 Yang Mengesankan

Lulus pada November 2005, Dwi merupakan jebolan dari S1 Teknik Informatika di Institut Sains dan Teknologi (IST), Akademi Perindustrian (Akprind) Yogyakarta. Dwi lulus dengan IPK 3,88 dan didukung dengan skripsinya yang berjudul “Membangun Robot Cerdas Pemadam Api Berbasis Algoritma Kecerdasan ANN (Artificial Neural Network)”.

Tak heran kalau Dwi juga pernah menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di tingkat Kopertis Wilayah V Yogyakarta. Prestasi Dwi di Akprind ini disampaikan oleh Rektor IST Akprind, Amir Hamzah dalam sebuah press rilis. Dia juga menuturkan bahwa rekam jejak Dwi selama di S1 tidak memiliki masalah-masalah terkait akademis.

Tak puas menimba ilmu di Indonesia, Dwi kemudian melanjutkan studi S2 di Fakultas Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science di TU Delft dan lulus pada tahun 2009. Kemudian dia melanjutkan program doktoral S3-nya di Intelligent System TU Delft. Sehingga dia sudah tinggal kurang lebih 10 tahun di negeri kincir angin tersebut.

Tanpa harus berbohong, sebenarnya Dwi sudah memiliki rekam jejak pendidikan yang cukup cemerlang. Kebohongan ini sangat disayangkan karena nyatanya dia akan menjalani ujian disertasi untuk menyelesaikan S3-nya pada 13 September 2017. Namun terpaksa ditunda karena Dwi harus melaksanakan sidang kode etik di TU Delft.

Sebelumnya dia sempat berbohong kepada publik dengan mengaku bahwa dia mengenyam pendidikan S1 di Institut Teknologi Tokyo di Jepang. Namun jika kita melihat sejarah pendidikannya, Dwi tidak pernah mengenyam pendidikan di negeri sakura tersebut.

4. Aktif di Delft Aerospace Rocket Engineering (DARE)

Dwi sempat bergabung dengan kegiatan ekstrakulikuler DARE (Delft Aerospace Rocket Engineering) yang beranggotakan mahasiswa TU Delft untuk membuat roket amatir. Bersama dengan teman-temannya, Dwi merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s.

Roket Cansat V7S tersebut merupakan roket amatir yang dibuat oleh mahasiswa. Keterkaitan Dwi untuk berkecimpung dalam dunia aerospace dan roket di ekstrakulikuler ini yang nampaknya menjadi motivasinya untuk berbohong menjadi ilmuwan dirgantara.

Ketertarikan Dwi di bidang luar angkasa ini memang terlihat dari hasil penulisan tesisnya pada Juli 2009 yang masih berkaitan dengan sistem satelit. Namun sayangnya sistem satelit di hasil tesis tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kebohongannya mengenai proyek wahana peluncur satelit (Satellite Launch Vehicle) yang sempat ia beberkan.

Sebelumnya ia berbohong bahwa ia merancang dan terlibat dalam proyek Satellite Launch Vehicle, sebuah wahana peluncur satelit. Bahkan ia juga sempat mengklaim bahwa dirinya memiliki paten bidang spacecraft technology.

5. Sempat Bertemu Habibie Walaupun Berawal Dari Kebohongan

Dwi pernah bertemu dengan mantan presiden RI ke-3, B.J Habibie. Ia meminta KBRI Den Haag untuk bisa mengobrol dan menemui Habibie. Duta besar KBRI Den Haag kemudian memperkenalkan Dwi ke Habibie pada pertemuan yang memang dihadiri banyak pihak.

Pertemuan keduanya berlangsung selama 10 menit sehingga pada acara tersebut keduanya bukan bertemu secara privat, melainkan bertemu pada satu acara. Sebelum terbongkarnya kebohongan Dwi juga berasal dari munculnya dokumen “Investigasi Mandiri” sebanyak 33 halaman yang menolak mentah-mentah klaim prestasi Dwi selama ini.

Investigasi ini dilakukan oleh teman-teman dekat dari Dwi, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) dan PPI. Bahkan sebelumnya, teman-teman terdekat Dwi sudah melakukan persuasif untuk melarang Dwi melakukan rentetan kebohongan ini.

Tentu sangat disayangkan sekali bukan? Hanya gara-gara kebutuhan akan sebuah pengakuan, Dwi sampai berani berbohong dan kemudian bikin kecewa banyak pihak, dari mulai kawan-kawannya yang telah mendukungnya, pihak kedutaan yang sudah keluar ongkos untuk bikin penghargaan, orang-orang Indonesia yang sudah kadung berharap bahkan sampai berbagai media yang kemudian jadi punya beban untuk melakukan klarifikasi karena telah ikut menyebarkan informasi palsu.

Harus diakui, jarang ditemui kasus seorang ilmuwan membual mengenai jabatan atau prestasi, lantaran sifatnya mudah diverifikasi. Dwi sendiri berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Yah, semoga saja hal tersebut bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua, khususnya Dwi. jangan pernah deh memilih berbohong soal prestasi akademis karena kalau sampai ketahuan, dampak yang bakal terjadi akan benar-benar fatal.

Kalau sekadar bohong bilang belum punya pacar padahal udah, itu sih boleh-boleh saja, sebab itu tidak ada tanggung jawab akademisnya, risikonya mentok-mentok cuma digampar sama pacar kalau ketahuan, nggak bakal sampai ditarik penghargaannya kok.

Your Header Sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.